Tuesday, April 11, 2017

RESUME PEMBELAJARAN BERWAWASAN KEMASYARAKATAN (PBK) PDGK4306 MODUL 4-9

MODUL 4
Satuan dan Program Pendidikan Masyarakat
Kegiatan Belajar 1 : Satuan dan Program Pendidikan di Masyarakat
Mengacu pada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 10, satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
pembelajaran berwawasan kemasyarakatan

Satuan Pendidikan yang ada di masyarakat menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 26 ayat 4 adalah lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.
Program pendidikan yang ada di masyarakat menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 26 ayat 3 adalah pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan, pendidikan kesetaraan.

Kegiatan Belajar 2 : Pendekatan Pembelajaran dalam Berbagai Satuan Pendidikan di Masyarakat
Pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran pada berbagai satuan pendidikan adalah pedagogi dan andragogi. Dalam model pedagogi, guru memiliki peran dalam pembelajaran karena didasari oleh beberapa asumsi mengenai peserta didik yaitu :
  1. Kebutuhan untuk mengetahui (The need to know)
  2. Konsep diri peserta didik (The leaners self konsep)
  3. Peran pengalaman (The role of experience)
  4. Kesiapan untuk belajar (Readliness to learn)
  5. Berorientasi belajar (Orientation to learning)
  6. Motivasi (Motivation)
Proses pembelajaran pedagogi cenderung teacher centered. Hal ini dilandasi dengan ciri : 1) adanya dominasi guru dalam pembelajaran, 2) Bahan belajar terdiiri dari konsep-konsep yang datangnya dari guru, 3) Materi belajar cenderung bersifat dominan, 4) Peserta didik tinggal menerima instruksi yang ditentukan oleh guru.
Knowles (1980) mendefinikan andragogi sebagai seni dan ilmu dalam membantu peserta didik untuk belajar (the science and arts of helping adults learn). Andragogi disebut juga sebagai teknologi pelibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran penerapan model.
Menurut pandangan andragogi, setiap pendidik harus mampu membantu peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan :
  1. Menciptakan suasana kondusif untuk belajar melalui kerja sama dalam merencanakan program pembelajaran.
  2. Menemukan kebutuhan belajar
  3. Merumuskan tujuan dan materi yang cocok untuk memenuhi kebutuhan belajar
  4. Merancang pola belajar dalam sejumlah pengalaman belajar untuk peserta didik
  5. Melaksanakan kegiatan belajar dengan menggunakan metode, teknik, dan sarana belajar yang tepat
  6. Menilai kgiatan belajar serta mendiagnosis kembali kebutuhan belajar untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya.
Asumsi yang dijadikan landasan dalam teori andragogi adalah sebagai berikut :
1)    Orang dewasa mempunyai konsep diri
2)   Orang dewasa mempunyai akumulasi pengalaman
3)   Orang dewasa mempunyai kesiapan untuk belajar
4)   Orang dewasa berharap dapat segera menerapkan perolehan belajarnya
5)   Orang dewasa memiliki kemampuan untuk belajar

Modul 7
Pembelaran Multikultural
Kegiatan Belajar 1 :Konsep Dasar Pembelajaran Multikultural
Dalam proses pembelajaran tidak dapat lepas dari unsur-unsur kebudayaan seperti :
  1. Kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang kompleks
  2. Kebudayaan merupakan suatu prestasi kreasi manusia yang material.
  3. Kebudayaan dapat pula berbentuk fisik
  4. Kebudayaan dapat pula berbentuk kelakuan-kelakuan yang terarah
  5. Kebudayaan merupakan suatu realitas yang objektif yang dapat dilihat
  6. Kebudayaan tidak terwujud dalam suatu kehidupan manusia soliter.
Menurut Ki Hadjar Dewatoro, kebudayaan berarti budah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat yaitu alam dan zaman. Rumusan tersebut mengandung makna :
  1. Kebudayaan selalu bersifat kebangsaan (nasional) dan mewujudkan sifat atau watak kepribadian bangsa.
  2. Tap-tiap kebudayaan menunjukkan keindahan dan tingginya adat kemanusiaan pada hidup masing-masing bangsa yang memilikinya.
  3. Tiap-tiap kebudayaan sebgai buah kemenangan manusia terhadap kekuatan alam dan zaman memudahkan dan melancarkan hidupnya serta memberi alat-alat baru untuk meneruskan kemajuan hidup dan memudahkan serta memajukan dan mempertinggi taraf kehidupan

Thomas Hickema (Tilaar: 2000) mengungkapkan tentang tugas guru dalam menerapkan nilai-nilai sebagai inti kebudayaan adalah :
  1. Pendidik haruslah menjadi seorang model
  2. Harus menciptakan masyrakat bermoral
  3. Mempraktekkan disiplin moral
  4. Mencptakan suasana demokratis
  5. Mewujudkan nilai-nilai melalui kurikulum
  6. Menciptakan budaya kerja sama
  7. Menumbuhkan kesadaran karya
  8. Mengembangkan resolusi konflik

Kegiatan Belajar 2 : Strategi Pengelolaan Pembelajaran Multikultural
Menurut Tilaar (2000), rumusan operasional mengenai hakikat pendidikan mempunyai komponen-komponen sebagai berikut :
  1. Pendidikan merupakan suaru proses berkesinambungan
  2. Proses pendidikan berarti menumbuhkembangkan eksistensi manusia
  3. Eksistensi manusia yang memasyarakat.
  4. Proses pendidikan dalam masyarakat yang membudaya
  5. Proses bermasyarakat dan membudaya

Javier Perez (Tilaar: 2000) mengungkapkan bahwa perdamaian harus dimulai dari diri kita masing-masing. Bahan-bahan belajar yang dapat dijadikan acuan dalam pembelajaran perdamaian adalah :
  1. Bahan-bahan atau materi pembelajaran harus memberi bantuan praktis dalam pembelajaran tentang perdamaian
  2. Bahan-bahan atau materi pembelajaran harus menggunakan berbagai metode yang dapat mengembangkan peran serta peserta didik secara aktif
  3. Bahan-bahan atau materi pembelajarab harus mampu memenuhi kebutuhan
  4. Bahan-bahan atau materi pembelajaran harus merangsang minat peserta didik untuk lebih memahami kelompok atau kebudayaan lain
  5. Bahan-bahan atau materi pembelajaran berisi kasus-kasus yang menunjukkan pertikaian antar manusia yang dapat diselesaikan secara damai
  6. Bahan-bahan atau materi pembelajaran harus mnenrangkan masalah-masalah yang paling penting untuk menciptakan perdamaian.

Strategi untuk mempelajari nilai-nilai inti yang berhubungan dengan hak-hak asasi manusia adalah : 1) belajar tentang hak-hak asasi manusia, 2) belajar bagaimana memperjuangkan hak-hak asasi manusia, 3) belajar melalui pelaksanaan hak-hak asasi manusia.
Strategi pembelajaran untuk demokrasi dapat dilakukan dengan cara : 1) etos demokrasi harus belaku di tempat pembelajaran, 2) pembelajaran untuk demokrasi berlangsung secara terus menerus, 3) penafsiran demokrasi harus sesuai dengan konteks sosial budaya, ekonomis, dan evolusinya.

Kegiatan Belajar 3 : Prosedur Pengelolaan Pembelajaran Multikultural
Prosedur yang ditempuh dalam pengelolaan pembelajaran multicultural adalah melalui tahapan : 1) kegiatan pendahuluan, 2) kegiatan utama, 3) analisis, 4) abstraksi, 5) penerapan, dan 6) kegiatan penutup.
Kegiatan pendahuluan dalam pembelajaran multikultiral adalah menciptakan suasana yang kondusif sehingga setiap peserta didik dapat belajar dalam harmoni kebersamaan.
Kegiatan utama merupakan kegitan instruksional yang menekankan pada penciptaan pembelajaran yang harmoni untuk membentuk kepribadian peserta didik yang penuh toleransi didasarkan pada keanekaragaman budaya.
Kegiatan analisis dalam pembelajaran multikultural adalah memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berbagi pemikiran dan pemahaman pribadi tentang sesuatu yang sudah dipelajarinya.
Abstraksi dalam pembelajaran multikultural merupakan upaya pendidik untuk memperjelas materi inti yang harus dipahami oleh peserta didik.
Penerapan dalam pembelajaran multikultural adalah untuk mengukur perubahan yang terjadi pada peserta didik setelah mengikuti pembelajaran.
Kegiatan penuup adalah kegiatan akhir dari prosedur pembelajaran multikultural yang dapat dilakukan sekaligus dengan kegiatan penilaian.

Modul 8
Muatan Life Skills dalam Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan
Kegiatan Belajar 1 : Konsep Dasar Life Skills
Dunia pendidikan di Indonesia menghadapi beberapa tantangan besar, diantaranya sebagai berikut : 1) Dunia pendidikan dituntut untuk mempertahankan hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai, 2) Dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten, mampu bersaing dalam pasar kerja global, 3) Dunia pendidikan dituntut mengubah paradigama dengan pendidikan yang demokratis, mendorong partisipasi masyarakat dan menghargai keragaman kebutuhan dan konsisi daerah, 4) masih rendahnya pertumbuhan ekonomi dan menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat dan munculnya berbagai masalah sosial yang mendasar, 5) Kualitas sumber daya manusia Indonesia masih rendah, 6) Kualitas manusia dipengaruhi juga oleh kemampuan dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Broling (1989) “life skills” adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting yang dimiliki oleh seseorang sehingga meraka dapat hidup mandiri. Kent Davis (2000:1) kecakapan hidup adalah “manual pribadi” bagi tubuh seseorang.
Kecakapan hidup/life skills versi Broling dipilah menjadi :
  1. Kecakapan personal (personal skills) yang mencakup kecakapan mengenal diri (self awareness), dan kecakapan berpikir rasional (thingking skills)
  2. Kecakapan sosial (social skills)
  3. Kecakapan kademik (academic skills)
  4. Kecakapan vokasional (vocational skills)

Kegiatan Belajar 2 : Jenis-jenis Life Skills
Broling (1989) mengelompokkan life skills menjadi : a) Kecakapan hidup sehari-hari (daily living skills), b) Kecakapan hidup sosial pribadi (personal/social skill), c) Kecakapan hidup bekerja (occupational skill).
WHO (World Health Organization) mengelompokkan life skills menjadi lima jenis, yaitu : 1) Self awareness/personal skill, 2) Social skill, 3) Thingking skill, 4) Academic skill, 5) Vocational skill.
Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda mengemukakan jenis-jenis life skills sebagai berikut : 1) Kecakapan pribadi (personal skills), 2) Kecakapan sosial (social skill), 3) Kecakapan akademik (academic skill), 4) Kecakapan vokasional (vocational skill).
Direktorat Kepemudaan mengungkapkan tiga jenis life skills, yaitu 1) Kecakapan Personal, 2) Kecakapan sosial, 3) Kecakapan vokasional.
Dalam dunia kerja, Satori (2002) mengenalkan jenis-jenis life skills dalam employability skills sebagai berikut : 1) Keterampilan Dasar, 2) Keterampilan berpikir tingkat tinggi, 3) Karakter dan keterampilan afektif. Satori menghubungkan antara life skills dengan employability skill, vocational skills, dan occupational skills.
Slameto membagi life skills menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Kecakapan Dasar, meliputi :
  1. Kecakapan belajar terus menerus
  2. Kecakapan membaca, menulis, dan menghitung
  3. Kecakapan berkomunikasi : lisan, tulisan, tergambar dan mendengar
  4. Kecakapan berpikir
  5. Kecakapan qalbu (spiritual), rasa dan emosi
  6. Kecakapan mengelola kesehatan badan
  7. Kecakapan merumuskan keinginan dan upaya-upaya untuk mencapainya
  8. Kecakapan berkeluarga dan sosial
2. Kecakapan Instrumental, meliputi :
  1. Kecakapan memanfaatkan teknologi dalam kehidupan
  2. Kecakapan mengelola sumber daya
  3. Kecakapan bekerja sama dengan orang lain
  4. Kecakapan memanfaatkan informasi
  5. Kecakapan menggunakan sistem dalam kehidupan
  6. Kecakapan berwirausaha
  7. Kecakapan kejujuran, termasuk olahraga dan seni (citarasa)
  8. Kecakapan memilih, meyiapkan dan mengembangkan karier
  9. Kecakapan menjaga harmoni dengan lingkungan
  10. Kecakapan menyatukan bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila

Kegiatan Belajar 3 : Pendekatan dan Strategi Pengembangan Muatan Life Skills pada Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan
Pendekatan Pendidikan berbasis luas (Broad based education) sebagai pendekatan dalam penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi life skills dmaksudkan sebagai upaya agar pendidikan dapat memenuhi pokok-pokok pikiran sebagai berikut :
  1. Pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis
  2. Masyarakat demokratis memerlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis
  3. Pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global
  4. Pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsa Indonesiaa yang bersatu dan demokratis
  5. Dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetitif dalam rangka kerja sama
  6. Pendidikan harus mampu mngembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan masyarakat
  7. Pendidikan harus mampu mengindonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi warga Negara Indonesia

Wardiman (1998:73) menyebutkan pendidikan berbasis luas nerupakan sistem baru yang berwawasan sumber daya manusia, berwawasan keunggulan, menganut prinsip tidak mungkin membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki keunggulan, kalau tidak diawali dengan pembentukan dasar (fondasi) yang kuat.
Strategi pengembangan muatan life skills pada pembelajaran yang berwawasan kemasyarakatan meliputi :
a. Strategi Renung-Latih-Telaah (RLT)
Strategi RLT yang berarti perenungan, Pelatihan atau Pembiasaan dan Pennelaahan dikemukakan oleh Marwah Ibrahim : pendidikan yang berorientasi life skills perlu dilaksanakan dengan strategi perenungan hakikat dan makna hidup/diri, peltihan/pembiasaan, tentang bagaimana mengelola (manajemen) hidup, dan penelaahan kisah sukses tokoh-tokoh sukses.
b. Strategi Laerner Cantered yang dikembangkan oleh Direktorat Kepemudaan yang menuntut penyelenggaraan life skills dalam pembelajaran menggunakan prinsip ;
1)    Pengembangan berdasarkan minat dan kebutuhan individu dan/atau kelompok sasaran
2)   Pengembangan kecakapan terkait dengan karakteristik potensi wilayah setempat (SDA dan potensi sosial budaya)
3)   Pengembangan kecakapan dilakukan secara nyata sebagai dasar sektor usaha kecil atau industry rumah tangga
4)   Pengembangan kecakapan berdasarkan pada peningkatan kompetensi keterampilan peserta didik untuk berusaha dan bekerja sehingga tidak terlalu teoritik namun lebih bersifat aplikatif operasional
c. Strategi Kurkulum Berbasis Kompetensi
d. Strategi Penguatan Pendidikan Ekstrakurikuler


Pola penyelenggaran pembelajaran berorientasi life skills, salah satunya adalah menggunakan 15 langkah, yaitu :
  1. Penyiapan Diri
  2. Penyiapan Lembaga Masyarakat
  3. Mengidentifikasi Potensi Penyelenggara Program
  4. Menyusun Rencana Kegiatan Pendidikan Kecakapan Hidup
  5. Menyusun Kurikulum dan Strategi Pendidikan Kecakapan Hidup
  6. Menyusun/Mengadakan Bahan belajar
  7. Menyusun Instrumen Pemaantauan, Penilaian, dan Pendampingan
  8. Melaksanakan Orientasi Bagi Pengelola dan Narasumber
  9. Melaksanakan sosialisasi Program kepada Stakeholders
  10. Melaksanakan Pembekalan/Pembelajaran
  11. Malaksanakan Fasilitasi Pemandirian Kecakapan Hidup Peserta Didik
  12. Mamantau, Menilai dan Memfasilitasi Pelaksanaan Program
  13. Menilai Program Pendidikan Kecakapan Hidup
  14. Menyusun Laporan Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup
  15. Menyusun Rencana Tindak Lanjut Program

Modul 9
Model-Model Pembelajaran Sosial
Kegiatan Belajar 1 : Model Pembelajaran Partisipatif
Pembelajaran partisipatif pada intinya dapat diartikan sebagai upaya pendidik untuk mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, yaitu : perancanaan program (program planning), pelaksanaan program (program implementation), dan penilaian program (program evaluation).
Ciri-ciri pembelajaran partisipatif :
  1. Pendidik menempatkan diri pada kebutuhan tidak serba mengetahui terhadap semua bahan belajar
  2. Pendidik memainkan peran untuk membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran
  3. Pendidik melakukan motivasi terhadap peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran
  4. Pendidik menempatkan dirinya sebagai peserta didik
  5. Pendidik bersama peserta didik saling belajar
  6. Pendidik membantu peserta didik untuk menciptakan situassi belajar yang kondusif
  7. Pendidik mengembangkan kegaitan pembelajaran berkelompok
  8. Pendidik mendorong peserta didik untuk meningkatkan semangat berprestasi
  9. Pendidik mendorong peserta didik untuk berupaya memecahkanpermasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya.
Knowles (1977) langkah-langkah yang harus dilakukan pendidik untuk membantu peserta didik dalam menumbuhkan dan mengembangkan situasi kegiatab dapat dilakukan dengan :
1.      Membantu peserta didik menciptakan iklim belajar
2.     Membantu peserta didik dalam menyusun kelpmpok belajar
3.     Membantu peserta didik dalam mendiagnosis belajar
4.     Membantu peserta didik dalam menyusun tujuan belajar
5.     Membantu peserta didik dalam merancang pengalaman belajar
6.     Membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran
7.     Membantu peserta didik dalam penilaian hasil, proses dan pengaruh kegiatan pembelajaran

Kegiatan Belajar 2 : Model Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Dalam menyiapkan anak untuk bersosialisasi di masyarakat, sejak dini anak harus sudah megenal lingkungan keidupannya. Model pembelajaran kontekstual merupakan upaya pendidik untuk menghubungkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik melakukan hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan meraka.
Dalam penerapan pembelajaran kontekstual dilandasi aliran konstruktivisme yaitu yang menekankan pada pengalaman langsung peserta didik sebagai kunci dalam pembelajaran.
Pembelajaran kontekstual memiliki perbedaan dengan pembelaaran konvensional, tekanan perbedaannya yaitu pembelajaran konstekstual lebih bersifat student centereddengan proses pembelajarannya berlangsung alamiah dalam membentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami. Sedangkan pembelajaran konvensional lebih cenderungteacher centered, yang dalam proses pembelajarannya siswa lebih banyak menerima informasi bersifat abstrak dan teoritis.
Dalam penerapan pembelajaran kontekstual di kelas, tidak terlepas harus memperhatikan komponen-komponen sebagai acuan utamanya, yaitu :
a.      konstruktivisme (construktivisme)
b.      Pecarian (Inqury)
c.      Bertanya (Questioning)
d.      Masyarakat Belajar (Learning Community)
e.      Pemodelan (Modeling)
f.      Refleksi (Reflection)
g.      Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment)

Kegiatan belajar 3 : Model Pembelajaran Mandiri
Menurut Knowles (1975) belajar mandiri lebih ditekankan pada orang dewasa dengan asumsi semakin dewasa peserta didik maka :
  1. Dapat mengurangi ketergantungan pada orang lain
  2. Dapat menumbuhkan proses alamiah perkembangan jiwa
  3. Dapat menumbuhkan tanggung jawab pada peserta didik
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan belajar mandiri :

  1. Terbuka terhadap setiap kesempatan belajar
  2. Memiliki konsep diri
  3. Berinisiatif
  4. Memiliki kecintaan terhadap belajar
  5. Kreativitas
  6. Memiliki orientasi ke masa depan
  7. Memiliki ketarampilan belajar

No comments: