Matahari sesungguhnya selalu hadir dan ada,
Dan setiap orang terhangati olehnya.
Meskipun begitu, karena matahari tidak selamanya terlihat,
Manusia tidak mengengetahui bahwa kehangatan dan kehidupan berasal darinya.

Rabu, 12 Oktober 2016

RESUME PDGK 4502 PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN DI SD MODUL 2

MODUL 2. LANDASAN DAN PENDEKATAN  PENGEMBANGAN KURIKULUM
KB 1 : LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Landasan pengembangan kurikulum pada hakikatnya perupakan aspek-aspek yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan pada waktu mengembangkan suatu kurikulum suatu pendidikan, baik dilingkungan sekolah maupun luar sekolah.
Menurut salah seorang pakar ilmu kurikulum yang bernama Robert S. Zais ( 1976 ), kurikulum suatu lembaga pendidikan didasarkan kepada lima landasan (Poundations ), yaitu ( 1 ) pilosopical assumtions,  ( 2 ) epistemology ( the nature of knowledge ) ( 3 ) society/ culture, ( 4 ) the individual, dan ( 5 ) learning theory. Dengan berpedoman pada lima landasan tersebut dibuatlah model yang disebut An electic model of the curriculum and its foundations.
Secara umum terdapat empat landasan pokok yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu landasan filosofis, psikologis, sosial-budaya, dan pengembangan ilmu pengetahuan/teknologi.
1.    Landasan filosofis
Landasan filosofis berkaitan dengan pentingnya filsafat dalam membina dan mengembangkan kurikulum pada suatu satuan pendidikan. Aspek filsafat menjadi rujukan utama bagi landasan lainnya dalam pengembangan kurikulum. Tujuan dan isi kurikulum pada dasarnya bergantung pada pertimbangan-pertimbangan filosofis yang berbeda akan mempengaruhi dan mendorong aplikasi pengembangan kurikulum yang berbeda pula. Berdasarkan landasan filosofis ini ditentukan tujuan-tujuan pendidikan.
Salah seorang pakar pendidikan, Redja Mudyahardjo ( 1989 ), menyatakan bahwa terdapat tiga system pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan di Indonesia. Ketiga system filsafat tersebut, yaitu Idealisme, Realisme, dan Pragmatisme. Kemudian Nana Syaodih Sukmadinata ( 1997 ) menyebutkan ada tiga cabang besar dari filsafat ini, yaitu metafisika yang membahas segala yang ada dalam alam ini, epistemologi yang membahas mengenai kebenaran, dan aksiologi yang membahas mengenai nilai-nilai.
Tujuan Pendidikan Nasional di Indonesia bersumber pada pandangan dan cara hidup manusia Indonesia, yakni Pancasila. Hal ini telah diwujudkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu: Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ( pasal 2 ). Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa., berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab ( pasal 3 ).
2.    Landasan psikologis
Landasan psikologis terutama berkaitan dengan teori belajar dan teori perkembangan anak. Teori belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi kurikulum itu disampaikan kepada siswa dan bagaimana siswa harus mempelajarinya. Teori perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi kurikulum yang akan diberikan kepada siswa agar tingkat kelulusan dan kedalamannya sesuai taraf perkembangan siswa.
3.    Landasan sosiologis   
Landasan sosiologis berkaitan dengan pentingnya mempertimbangkan aspek perkembangan masyarakat dan kebudayaan dalam mengembangkan kurikulum satuan pendidikan. Pendidikan selalu mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Keberhasilan pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan masyrakat dengan segala karakteristik dan kekayaan budayannya yang menjadi dasar dan acuan bagi pendidikan dan kurikulum.
4.    Landasan teknologis
 Landasan teknologis berkaitan dengan pentingnya mempertimbangkan aspek ilmu pengetahuan, teknologi dan seni ( IPTEKS ) dalam mengembangkan kurikulum satuan pendidikan. Pengembangan program pendidikan ( kurikulum ) harus dilandasi dan mengacu pada perkembangan dan kemajuan IPTEKS yang secara langsung akan menjadi isi/ materi kurikulum dan cara penyampaianya.

KB 2: PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Menurut Wina Sanjaya ( 2008 : 77 ), pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu.
A.    PENDEKATAN DARI SUDUT PANDANG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Ada dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum dari sudut pandang kebijakan, yaitu pendekatan administratif (administratif approach ) dan pendekatan akar rumput ( grassroots approach ).
Pendekatan pertama yaitu pendekatan pengembangan kurikulum dengan menggunakan system komando dari atas ke bawah. Pendekatan ini disebut pendekatan top- down  karena pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif dan gagasan para pemegang kebijakan pendidikan atau administrator pendidikan tingakat pusat dengan menggunakan prosedur administratif.
Pendekatan kedua yaitu pendekatan pengembangan kurikulum yang diawali dengan inisiatif dari bawah ( guru dan sekolah ) selanjutnya disebarluaskan pada tingkat yang lebih luas.

B.     PENDEKATAN DARI SUDUT PANDANG PENGORGANISASIAN ISI KURIKULUM
Ada tiga pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum dari sudut pandang pengorganisasian isi kurikulum, yaitu pendekatan yang berpusat pada mata pelajaran ( subject ), pendekatan interdisipliner, dan pendekatan terpadu ( integrated ).
Pendekatan pertama bertitik tolak dari mata pelajaran ( subject ) sebagai suatu disiplin keilmuan. Setiap mata pelajaran merupakan disiplin ilmu yang terpisah antara satu dengan yang lainnya.
Pendekatan kedua berangkat dari masalah-masalah sosial yang ada dalam kehidupan nyata yang tidak mungkin ditinjau hanya dari satu segi/ aspek saja. Suatu peristiwa yang terjadi dalam masyarakat yang akan mempengaruhi segi-segi kehidupan haus ditinjau dari berbagai segi.
Pendekatan ketiga bertitik tolak dari suatu keseluruhan atau suatu kesatuan yang bermakna dan berstruktur. Bermakna artinya bahwa setiap keseluruhan itu memiliki makna, arti, dan faedah tertentu. Keseluruhan bukanlah penjumlahan dari bagian-bagian, melainkan suatu totalitas yang memiliki maknanya sendiri.

C.    PENDEKATAN DARI SUDUT PANDANG ORIENTASI PENYUSUNAN KURIKULUM

Pendekatan dari sudut pandang orientasi penyusunan kurikulum dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu orientasi pada tujuan, orientasi pada bahan ajar, dan orientasi pada kegiatan belajar-mengajar. Pendekatan yang berorientasi pada tujuan didasarkan pada tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan secara jelas, mulai dari tujuan pendidikan nasional, tujuan mata pelajaran, sampai dengan tujuan pembelajaran. Pendekatan yang berorientasi pada bahan ajar sangat menitikberatkan penyusunan kurikulum pada bahan ajar atau materi pelajaran yang akan diajarkan.