Wednesday, July 31, 2013

DEMI IMPIAN, JANGAN PERNAH BERHENTI


Suatu hari ada seorang ibu bersama seorang anak kesayangannya yang masih sekolah. Sang ibu sudah ditinggal oleh suaminya yang telah meninggal dunia terlebih dahulu. Untuk menopang keluarganya, sang ibu mencari nafkah dengan menerima jasa membuat lukisan.
Lukisan yang dibuatnya sungguh indah dan membuat orang kagum, sehingga banyak orang meminta dirinya untuk membuat lukisan. Hasil dari pembuatan lukisan tersebut cukup untuk menghidupi dirinya dan anaknya.
Sang anak pada mulanya sangat bersemangat dan rajin bersekolah. Namun, lama-kelamaan, kelakuannya mulai berubah. Sifatnya yang rajin mulai mengendur, tidak belajar saat ujian hampir tiba sehingga nilai sekolah kurang memuaskan. Dan yang paling berat adalah ia mulai sering bolos sekolah.
Sang ibu sudah diberitahu perihal kelakukan anaknya oleh pihak sekolah. Berkali-kali anak tersebut dinasihati, tetapi sifat buruknya tidak juga dibuang. Sampai suatu hari, anaknya mendapat surat peringatan terakhir. Jika anaknya terus-terusan membolos, maka ia akan dikeluarkan dari sekolah. Di sisi lain, nilainya yang anjlok kemungkinan besar bisa membuatnya gagal naik kelas.
Sang ibu menegur anaknya. Dan ketika kemarahannya mulai memuncak, sambil menangis, ia mencoret dan menyobek lukisan yang sudah hampir selesai. Lukisan yang telah dibuat berminggu-minggu dirusak begitu saja. Hati anaknya ikut teriris sebab ia tahu ibunya susah payah melukis untuk menyekolahkan dan menghidupi dirinya. Anaknya pun ikut menangis dan memeluk ibunya sambil meminta maaf.
“Ampun, Bu! Aku minta maaf, aku tidak akan jahat lagi. Aku tahu aku telah bersalah, tapi ibu jangan merusak lukisan yang sudah ibu lukis dengan susah payah,” ujar anaknya.
Ibunya pun berkata, “Tidak ada gunanya ibu melukis hanya untuk melihat dirimu seperti ini. Ibu membuat lukisan dengan harapan bisa menyekolahkanmu agar kelak kamu bisa menjadi orang yang berguna. Jika kamu dikeluarkan dari sekolah atau tinggal kelas, pengorbanan ibu akan menjadi sia-sia.”
Ibunya melanjutkan, “Lihat lukisan yang sudah rusak ini! Lukisan ini dibuat dari goresan demi goresan dan dibutuhkan ketekunan dan ketelitian untuk membuatnya menjadi indah. Karena itulah sebuah lukisan indah bisa bernilai tinggi. Karena ibu sudah mencoret dan merusaknya, maka lukisan ini sudah tidak bernilai lagi. Begitu juga dengan kamu. Apa yang sudah kamu pelajari di sekolah sampai sejauh ini sesungguhnya sangat berguna bagi masa depan kamu. Tetapi, sifat kamu yang buruk akan membuat semuanya menjadi tidak berguna dan bernasib sama seperti lukisan ini..”
Sambil berlinang air mata, anaknya sadar dan berjanji pada ibunya, “Aku menyesal dan tidak akan mengulangi lagi perbuatanku yang dulu. Aku berjanji tidak akan bolos lagi dan akan belajar dengan rajin agar kelak bisa membahagiakan ibu.”
Sejak saat itu, anaknya mulai berubah menjadi anak yang rajin, ulet, tidak bolos sekolah, dan menyayangi ibunya.
----------------------------------------------------------------------
Bagi sebagian besar orang, memulai sesuatu untuk meraih impian mungkin tidak sulit. Yang membuatnya menjadi sulit adalah begitu banyak orang yang memutuskan untuk berhenti di tengah jalan. Banyak orang yang memutuskan untuk menyerah karena berbagai masalah.
Mungkin Anda juga pernah mengalami hal seperti ini. Anda memiliki impian yang sangat ingin Anda raih. Semangat Anda begitu berkobar. Tekad Anda begitu besar untuk menjadi seperti yang Anda inginkan. Anda mulai mengambil tindakan. Tetapi seiring berjalannya waktu, semangat Anda mulai kendur. Hambatan demi hambatan membuat Anda putus asa dan menyerah. Akhirnya, impian Anda terkubur dalam-dalam dan mulai dilupakan. Impian yang begitu indah akhirnya ternoda dan rusak.
Sesungguhnya semua orang, termasuk Anda, bisa meraih impian jika Anda tidak pernah mau menyerah. Jika Anda terus berjalan, maka Anda akan tiba di tempat yang Anda impikan. Tidak peduli berapa banyak hambatan, rintangan, masalah atau kegagalan yang berusaha menghentikan Anda, jika Anda memutuskan untuk tidak berhenti, maka tidak akan ada yang bisa menghentikan langkah Anda untuk mencapai impian.

Apa Yang Kita Pikirkan Belum Tentu Benar Adanya



Dikisahkan, seorang pemuda sedang berada di ujung tanduk. Ia terancam diberhentikan oleh atasannya. Alasannya, ia telah melakukan kesalahan yang cukup fatal. Ia sebenarnya telah melakukan perjanjian pada hari sebelumnya untuk bertemu seorang investor guna melakukan kesepakatan proyek berskala besar.
Tetapi karena sesuatu hal, ia terlambat. Karena investor tersebut telah menunggu cukup lama dan tidak punya waktu lagi dikarenakan jadwal penerbangan ke luar negeri, maka kesepakatan tersebut batal sehingga membuat perusahaan tempatnya bekerja menderita kerugian.
Sang atasan sangat murka atas apa yang telah terjadi. Proyek besar yang sudah ada di depan mata hilang begitu saja. Meskipun pemuda tersebut berusaha menjelaskan alasan keterlambatannya, atasannya tidak peduli dan tidak mau tahu. Dengan wajah yang marah, ia langsung memecatnya dengan tidak hormat dan mengimbau agar dirinya tidak usah datang lagi esok. Pemuda tersebut sangat sedih, sekaligus pasrah menerima keputusan atasannya.
Beberapa detik kemudian, telepon genggam atasan berbunyi. Wajahnya yang marah berubah menjadi pucat ketakutan setelah mendengar berita bahwa ibunya kecelakaan dan terbaring di rumah sakit. Tanpa pikir panjang, ia segera bergegas menuju rumah sakit. Melihat keadaan itu, pemuda yang dipecat beserta karyawan lain juga ikut menyusul.
Akhirnya mereka mereka tiba di rumah sakit tempat ibu atasan dirawat. Segera mereka menuju ke kamar pasien dengan cemas untuk mengetahui kondisi pasien. Saat mereka tiba, pasien sedang tertidur. Dokter menegaskan, “Ibu Anda sekarang selamat. Untung saja ia cepat dibawa ke sini.”
Sang atasan menatap ibunya dengan wajah sedih. Tidak lama kemudian, mata ibunya mulai terbuka dan terbangun. Mereka begitu bersyukur dan bisa bernapas lega. Tiba-tiba, mata ibunya melebar seperti kaget ketika menatap seorang pemuda yang dipecat tadi.
Sambil menunjuk pemuda itu, ia bertanya pada anaknya, “Siapa pemuda itu?”
Sang atasan menjawab, “Ia mantan karyawan saya. Tadi pagi sudah saya pecat karena terlambat. Proyek saya gagal karenanya.”
Ibunya langsung berkata, “Anakku. Dia terlambat karena dia yang telah menolong dan membawa ibu ke rumah sakit ini. Kalau tidak ada dia, mungkin ibu tidak bisa diselamatkan lagi. Dialah penolong ibu. Kamu harusnya berterima kasih padanya, bukan memecatnya. Sekarang kamu harus minta maaf padanya dan pekerjakan dia kembali sebagai karyawanmu.”
Sang atasan begitu terkejut mendengar kenyataan ini, begitu juga dengan karyawan lainnya. Dengan wajah malu-malu, ia meminta maaf kepada pemuda yang tadi dipecatnya, kemudian membatalkan pemecatan dan mengangkatnya kembali ke posisi yang lebih tinggi karena rela menolong nyawa seseorang meskipun tahu akan kehilangan sebuah proyek besar.
Pesan kepada pembaca:
Sering kali apa yang kita pikirkan mengenai sesuatu atau seseorang tidak sesuai dengan kenyataan. Seperti halnya pada cerita di atas dimana atasan tidak tahu dengan pasti apa yang telah dilakukan karyawannya sehingga menyebabkan dirinya terlambat.
Kita kadang merasa sudah tahu segalanya dan merasa bahwa kita ini paling benar. Padahal apa yang kita ketahui sangatlah sedikit sekali dikarenakan keterbatasan pandangan mata dan pikiran kita. Karena keterbatasan itulah, kita sering membuat kesimpulan sepihak yang belum tentu benar 100%. Inilah yang membuat kita sulit untuk memahami orang lain. Ketika orang lain bertindak tidak sesuai dengan yang kita harapkan, kita cenderung main hakim sendiri tanpa pernah mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita menjadi terlalu egois, merasa diri paling benar dan menganggap orang lain salah.
Begitu juga ketika kita memandang sesuatu hal yang terjadi. Kita hanya melihat dan menafsirkan sendiri sesuai dengan pemikiran kita. Kita akhirnya membuat kesimpulan dan memberi arti dari kejadian itu. Saat itulah kita menganggap pemikiran kitalah yang benar dan menilai salah pemikiran lainnya. Itulah sebabnya mengapa dua orang mengalami peristiwa yang sama, tetapi reaksi mereka sangat berbeda.
Dua orang karyawan dipecat. Satunya bereaksi negatif dengan cara mabuk-mabukan, stres atau marah-marah. Yang satu lagi bereaksi positif dengan cara bekerja keras agar bisa sukses melebihi atasannya. Dua orang memandang sesuatu yang sama secara berbeda.
Maka dari itu, mulai hari ini berusahalah untuk lebih bijaksana menilai sesuatu atau seseorang. Dengan begitu, kita akan lebih memahami prinsip dan nilai-nilai kehidupan yang lebih baik dan bermakna.
Source:http://topmotivasi.com

selanjur bercinta

Masih tiada ikatan
Walau telah lama berpasangan
Hanya bahasa meyakinkan
Hubungan kita

Dengan suara yang syahdu
Dapat kau lukis hatiku
Keindahan mimpi-mimpimu

Apakan benar cinta berbunga
Harum di dalam jambangan jiwa
Sehingga ku asyik terlena
Olehnya...

Rindu berlarutan
Mimpi berpanjangan
Namun belum ada kenyataan

Mahligai masih lagi
Terapung di awangan
Dalam madah
Seloka cinta

Berapa lama lagi
Perlu aku nanti
Rindu ini mencecah ke bumi
Segala janji kan menjadi nyata
Dan bertapak mahligai bahagia

Bukan aku memaksa
Tapi selanjur bercinta
Biar sampai berumahtangga...

Biar kita beralas adat
Demi menjaga bangsa berdaulat
Agar kita dapat syafa'at
Di akhirat


http://jet809.blogspot.com/2006/12/selanjur-bercinta.html

KATA-KATA BIJAK LUCU (just for fun)


memang kata kata yang keluar semua dari mulut kita itu bisa juga dikatakan sebagai kualitas diri kita masing masing dan untuk lebih singkatnya mari kita simak sama sama beberapa bait kata kata bijak lucu di bawah ini:


Kata orang tua, jangan menikah dengan wanita sekampung. Menikahlah cukup dengan seorang wanita saja.

Kesuksesan seseorang selalu berawal dari mimpi. Jika begitu adanya, marilah kita tidur.

Ringan sama dinjinjing, berat ditinggal saja. Suruh orang lain bawakan.

Seberat apapun pekerjaan, apabila tidak dikerjakan maka akan terasa ringan.

Setiap malam aku kengen kamu.
Di waktu Pagi aku merindukan kamu.
Tetkala siang aku slalu teringat kamu
Bahkan di waktu sore pun aku kepikiran kamu
Pleas!!!!kirimin pulsa untukku,agar aku bisa mengingat mu selamanya

Teman sejati selalu berbagi, kalo saya jadi laut, kamu jadi ikan, saya jadi kumbang kamu jadi bunga, saya jadi matahari kamu jadi bumi, kalo saya jadi tarzan, kamu mau jadi monyetnya?

Setelah JABOTABEK pemerintah akan membuat program 3 kota bersaudara ( Three sister cities ) yaitu NGAWI – CENGKARENG – CIOMAS yang apabila disingkat menjadi NGACENGMAS

NAFSU mengukur wanita itu cantik atas dasar rupanya, AKAL menilai wanita itu cantik atas dasar kepintarannya, HATI menobatkan wanita itu cantik atas dasar keteguhan imamnya

Anda akan temukan bahwa ketika Anda nanti melihat ke belakang, ke hidup Anda di masa lalu, bahwa saat-saat paling bermakna dalam hidup Anda adalah ketika Anda melakukan sesuatu atas nama cinta, atas dasar keinginan untuk memahami dan memberi yang terbaik untuk orang lain. (Henry Drummond)

Lagu Bukanlah Lagu sebelum didendangkan, cinta bukanlah cinta sebelum di ungkapkan. karena cinta bukan untuk dipendam tapi untuk di perjuangkan.

Jangan takut untuk mencinta, hanya karna pernah terluka. Cinta sejati tak datang begitu saja, ada proses sedih dan tertawa dilalui bersama.

Hal yang paling utama ketika mencari seorang calon suami adalah menemukan orang yang berkepribadian. Mobil pribadi, rumah pribadi dan kolam renang pribadi.

Jangan salahkan diri anda jika anda merasa bahwa anda jelek. Salahkan orang tua anda, karena jelek adalah keturunan. Haha ..
Jika anda ingin bahagia, menikahlah dengan pria yang berwibawa. Wiii .. bawa mobil. Wiii … bawa duit.

Wednesday, July 24, 2013

Ketika Ilmu Diangkat dan Kebodohan Merajalela


Dalam Ash-Shahiihain, dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
من أشراط الساعة أن يُرْفَعَ العلم، ويَثْبُتَ الجهلُ.
“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan”.[1]
Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiiq, ia berkata : “Aku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa. Mereka berkata : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
إن بين يدي الساعة لأيَّاماً يُنزَلُ فيها الجهلُ، ويُرْفَعُ العلم.
“Sesungguhnya menjelang hari kiamat kelak, akan ada hari-hari yang diturunkanya kebodohan dan diangkatnya ilmu”.[2]
Dan dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia bekata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
يتقارَبُ الزَّمان، ويُقْبَضُ العلم، وتَظْهَرُ الفِتَنُ، ويُلقى الشُّحُّ، ويَكْثر الهَرْج.
“Telah semakin dekat jaman dimana akan diangkat ilmu, fitnah merajalela, penyakit kikir akan dijatuhkan (dalam hati manusia), dan banyaknya ‘harj’ (pembunuhan)”.[3]
Berkata Ibnu Baththaal rahimahullah :
وجميع ما تضمَّنَهُ هذا الحديث من الأشراط قد رأيناها، فقد نقص العلم، وظهر الجهل، وأُلْقِي الشحّ في القلوب، وعمّت الفتن، وكثرَ القتل.
“Seluruh tanda-tanda tentang hari kiamat yang terdapat dalam hadits ini telah kita lihat. Sungguh, ilmu telah berkurang, kebodohan merajalela, sifat kikir telah dijatuhkan/dijangkitkan dalam hati (manusia), firnah telah tersebarnya, dan pembunuhan banyak terjadi”.[4]
Ibnu Hajar mengomentari hal itu dengan berkata :
الذي يظهر أن الذي شاهده كان منه الكثير، مع وجود مقابله، والمراد من الحديث استحكام ذلك، حتى لا يبقى مما يقابله إلا النادر، وإليه الإشارة بالتعبير يقبض العلم، فلا يبقى إلا الجهل الصرف، ولا يمنع من ذلك وجودُ طائفة من أهل العلم، لأنهم يكونون حينئذ مغمورين في أولئك.
“Yang nampak, tanda-tanda hari kiamat yang disaksikannya itu memang sudah banyak terjadi, bersamaan dengan adanya realitas yang sebaliknya. Dan yang dimaksud oleh hadits adalah dominannya hal-hal tersebut sehingga tidak tersisa hal yang tidak seperti itu melainkan sedikit. Inilah yang diisyaratkan oleh hadits dengan ungkapan : ‘diangkatnya ilmu’; tidaklah tinggal/tersisa kecuali hanyalah kebodohan. Namun hal itu tidaklah menghalangi untuk tetap adanya sekelompok ahli ilmu (ulama) di tengah umat, karena pada waktu itu mereka tertutup oleh dominasi masyarakat yang bodoh akan ilmu agama”.[5]
Diangkatnya ilmu terjadi dengan diangkatnya (diwafatkannya) para ulama, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إن الله لا يَقْبِضُ العلمَ انتزاعاً ينتزعُه من العباد، ولكنْ يقبِضُ العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يبقَ عالماً؛ اتَّخذ الناس رؤوساًَ جُهَّالا، فسُئِلوا ؟ فأفتوا بغير العلم، فضلّوا وأضلوا.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari manusia. Namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang berilmu (di tengah mereka), manusia mengangkat para pemimpin yang jahil. Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)”.[6]
An-Nawawiy berkata :
هذا الحديث يُبَيِّنُ أن المراد بقبض العلم في الأحاديث السابقة المطلقة ليس هو محوُه من صدور حفَّاظه، ولكن معناه : أن يموتَ حملتُه، ويتخذ الناس جُهَّالا يحكمون بجهالاتهم، فيضلُّون ويُضِلُّون.
“Hadits ini memberikan penjelasan akan maksud ‘diangkatnya ilmu’ - sebagaimana tertera dalam hadits-hadits secara mutlak – bukanlah menghapuskannya dari dada para penghapalnya. Namun maknanya adalah : wafatnya para pemilik ilmu tersebut. Manusia kemudian mengambil orang-orang bodoh yang menghukumi sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain”.[7]
Dan yang dimaksud dengan ‘ilmu’ di sini adalah ilmu mengenai Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, yang itu merupakan ilmu warisan para nabi ‘alaihis-salaam. Dan ulama adalah pewaris para nabi. Oleh karena itu, kepergian mereka sama dengan perginya ilmu, matinya sunnah, berkembangnya bid’ah, dan meratanya kebodohan.
Adapun ilmu keduniaan, maka itu merupakan tambahan. Bukanlah ia yang dimaksud dalam hadits-hadits, dengan alasan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)”. Kesesatan hanyalah terjadi karena kebodohan dalam agama. Dan ulama yang hakiki adalah ulama yang mengamalkan ilmu-ilmu mereka, mengarahkan dan menunjukkan umat ke jalan lurus dan petunjuk. Ilmu tanpa disertai amalan tidaklah banyak bermanfaat. Bahkan dapat menjadi bencana bagi pemiliknya. Telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan lafadh :
وينقص العمل
“Dan amal pun berkurang”.[8]
Berkata Al-Imam Muarrikh (ahli sejarah) Islam Adz-Dzahabi setelah menyebutkan sekelompok ulama :
وما أوتوا من العلم إلا قليلاً، وأما اليوم؛ فما بقي من العلوم القليلة إلا القليل، في أناس قليل، ما أقل مَن يعمل منهم بذلك القليل، فحسبنا الله ونعم الوكيل.
“Tidaklah mereka diberikan ilmu melainkan sedikit. Adapun hari ini, tidaklah tersisa dari ilmu-ilmu yang sedikit tersebut melainkan lebih sedikit lagi di tangan orang-orang yang jumlahnya sedikit pula. Dan betapa sedikit lagi orang-orang yang beramal dengan ilmu mereka yang sedikit itu. Hasbunallaah, wa ni’mal-wakiil (Semoga Allah mencukupkan kita, dan Dia-lah sebaik-baik Pengurus)”.[9]
Jika realita itu terjadi di jaman Adz-Dzahabiy, maka bagaimana realita yang terjadi di jaman kita sekarang ? Ssungguhnya semakin jauh dari jaman kenabian, semakin sedikit ilmu dan semakin banyak kebodohan. Para shahabat radliyallaahu ‘anhum adalah generasi yang paling mengetahui dari umat ini, kemudian tabi’iin, dan kemudian tabi’ut-taabi’iin. Mereka generasi terbaik sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
خير الناس قرني، ثم الذُن يلونهم، ثم الذين يلونهم.
“Sebaik-bak manusia adalah generasiku, kemudian setelah mereka (tabi’in), dan kemudian setelah mereka (tabi’ut-tabi’in)”.[10]
Ilmu tentang agama akan senantiasa berkurang, kebodohan bertambah, hingga kelak orang-orang tidak tahu apa yang difardlukan/diwajibkan oleh Islam. Diriwayatkan dari Hudzaifah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
يدرس الإسلام كما يدرس وشي الثوب، حتى لا يدرى ما صيام، ولا صلاة، ولا نسك، ولا صدقة؟ ويُسرى على كتاب الله في ليلة فلا يبقى في الأرض منه آية، وتبقى طوائف من الناس : الشيخ الكبير، والعجوز يقولون : أدركنا آباءنا على هذه الكلمة؛ يقولون : (لا إله إلا الله)، فنحن نقولها. فقال له صلة : ما تغني عنهم (لا إله إلا الله) وهم لا يدرون ما صلاة، ولا صيام، ولا نسك، ولا صدقة؟ فأعرض عنه حذيفة، ثم رددها عليه ثلاثاً، كل ذلك يُعرض عنه حذيفة، ثم أقبل عليه في الثالثة، فقال : يا صلة! تنجيهم من النار ثلاثاً.
“Islam akan pudar (hilang) sebagaimana pudarnya warna pakaian yang telah usang. Hingga tidak diketahui apa itu shalat, puasa, haji, dan shadaqah (zakat). Dan terbanglah Al-Qur’an pada suatu malam hingga tidak tersisa satu pun ayat darinya di muka bumi. Tinggallah sekelompok orang-orang yang telah tua dan lemah berkata : ‘Kami dapati bapak-bapak kami kalimat ini’ – mereka mengatakan : ‘Laa ilaha illallaah (tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah)’ – maka kami pun mengatakannya juga.
Shilah[11] bertanya kepada Hudzaifah : “Apa gunanya Laa ilaha illallaah bagi mereka sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu shalat, puasa, haji, dan shadaqah (zakat) ?”. Hudzaifah berpaling darinya, hingga Shillah mengulangi pertanyaannya tersebut tiga kali. Hudzaifah selalu berpaling pada setiap pertanyaan tersebut, hingga akhirnya ia menghadap kepada Shillah pada kali yang ketiga dan berkata : “Wahai Shillah ! Kalimat itu menyelamatkan mereka dari neraka” – ia mengulanginya sampai tiga kali.[12]
‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu berkata :
لَيُنْزَعَنَّ القُرْآن من بين أظْهُرِكُم، يُسرى عليه ليلاً، فيذهب من أجواف الرجال، فلا يبقى في الأرض منه شيءٌ.
“Sungguh Al-Qur’an akan dicabut dari kalian, yaitu ia akan diterbangkan pada suatu malam, hingga ia lenyap dari hati manusia dan tidak ada lagi yang tersisa di muka bumi sedikitpun”.[13]
Ibnu Taimiyyah berkata :
يُسرى به في آخر الزمان من المصاحف والصدور، فلا يبقى في الصدور منه كلمة، ولا في المصاحف منه حرفٌُ.
“Kelak Al-Al-Qur’an akan dihilangkan di akhir jaman dari mushhaf-mushhaf dan dada-dada manusia. Tidak tertinggal satu kalimat pun dari dada-dada manusia hafalan, dan satu huruf pun dari mushhaf-mushhaf”.[14]
Ibnu Katsir berkata :
في معنى هذا الحديث قولان :
أحدهما : أن معناه أن أحداً لا يُنكر منكراً، ولا يزجر أحداً إذا رآه قد تعاطى منكراً، وعبَّر عن ذلك بقوله : ((حتى لا يقال : الله، الله))؛ كما تقدَّمَ في حديث عبد الله بن عمر : ((فيبقى فيها عجاجةٌ، لا يعرفون معروفاً، ولا يُنكرون منكراً)).
والقول الثاني : حتى لا يُذكر الله في الأرض، ولا يُعرف اسمه فيها، وذلك عند فساد الزمان، ودمار نوع الإنسان، وكثرة الكفر والفسوق والعصيان.
“Ada dua pendapat mengenai makna hadits ini :
Pertama : Bahwasannya maknanya adalah seseorang tidak lagi mengingkari kemunkaran, tidak pula melarang orang lain ketika melakukan kemunkaran. Pengertian ini diambil dari sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Hingga tidak lagi diucapkan : Allah, Allah’ [15]; sebagaimana telah disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar : ‘Hingga tinggallah di dalamnya orang-orang bodoh yang tidak mengetahui/mengajak kepada yang ma’ruf dan tidak pula mengingkari yang munkar’.[16]
Kedua : Hingga tidak disebutkan lagi lafadh Allah di bumi. Tidak pula diketahui nama-Nya di dalamnya. Hal itu terjadi pada saat jaman telah rusak, nilai kemanusiaan telah hancur, serta merajalelanya kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan”.[17]
[Selesai ditulis oleh Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogoriy – diambil dari buku Asyraathus-Saa’ah karya Yusuf bin ‘Abdillah bin Yusuf Al-Waabil, hal. 131-136; Daar Ibnil-Jauziy].


[1] Shahih Al-Bukhariy, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Raf’il-‘Ilmi wa Qabdlihi wa Dhuhuuril-Jahli (1/178 – bersama Fathul-Baariy) dan Shahih Muslim, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Raf’il-‘Ilmi wa Qabdlihi wa Dhuhuuril-Jahli wal-Fitan fii Aakhiriz-Zamaan (16/222 – bersama Syarh An-Nawawiy).
[2] Shahih Al-Bukhari, Kitaabul-Fitan, Baab Dhuhuuril-Fitan (13/13 – bersama Fathul-Baariy).
[3] Shahih Muslim, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Raf’il-‘Ilmi (16/222-223 – bersama Syarh An-Nawawiy).
[4] Fathul-Baariy (13/16).
[5] Fathul-Baariy (13/16).
[6] Shahih Al-Bukhariy, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Kaifa Yaqbidlul-‘Ilm (1/194 – bersama Fathul-Bariy), dan Shahih Muslim, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Raf’il-‘Ilmi wa Qabdlihi wa Dhuhuuril-Jahli wal-Fitan(16/223-224 – bersama Syarh An-Nawawiy).
[7] Syarhun-Nawawiy li-Shahih Muslim (16/223-224).
[8] Shahih Al-Bukhariy, Kitaabul-Adab, Baab Husnil-Khuluq was-Sakhaa’ wa Maa Yakrahu minal-Bukhl (10/456 – bersama Fathul-Baariy).
[9] Tadzkiratul-Huffadh (3/1031).
[10] Shahih muslim, Kitaab Fadlaailish-Shahaabah, Baab Fadllish-Shahaabah radliyallaahu ‘anhum tsumma Alladziina Yaluunahum (16/86 – bersama Syarhun-Nawawiy).
[11] Dia adalah Abul-’Alaa atau Abu Bakr, Shillah bin Zufar Al-’Absiy Al-Kuufiy, seorang tabi’iy kabiir, tsiqah lagi agung. Ia meriwayatkan dari ‘Ammaar bin Yaasir, Hudzaifah bin Al-Yamaan, Ibnu Mas’ud, dan ‘Aliy bin Abi Thaalib. Wafat pada akhir tahun 70 H – semoga Allah merahmatinya.
Lihat biografinya pada : Tahdziibut-Tahdziib (4/437) dan Taqriibut-Tahdziib (1/370).
[12] Sunan Ibni Majah, Kitaabul-Fitan, Baab Dzahaabil-Qur’aan wal-’Ilmi (2/1344-1345) dan Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (4/473). Al-Haakim berkata : “Hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan Muslim, namun ia tidak mengeluarkannya”. Pernyataan ini disepakati oleh Adz-Dzahabiy.
Ibnu Hajar berkata : “Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad qawiy (kuat)” [Fathul-Baariy (13/16)].
Al-Albaniy berkata : “Shahih”. Lihat Shahih Al-Jaami’ Ash-Shaghiir (6/339 no. 7933).
[13] Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy, rijalnya adalah rijal Ash-Shahiih selain dari Syaddaad bin Ma’qil. Ia adalah tsiqah [Majma’uz-Zawaaid (7/329-330)].
Ibnu Hajar berkata : “Sanadnya shahih, namun ia mauquf” [Fathul-Baariy (13/16)].
Aku (Yusuf Al-Waabil) berkata : “Perkataan seperti itu tidaklah diucapkan berdasarkanra’yu (akal). Oleh karena itu ia dihukumi marfu’”.
[14] Majmu’ Fataawaa Ibni Taimiyyah (3/198-199).
[15] Shahih Muslim, Kitaabul-Iman, Baab Dzahaabul-Iman Aakhiruz-Zamaan (2/178 – bersamaSyarhun-Nawawiy).
[16] Musnad Ahmad (11/181-182 – Syarh Ahmad Syaakir). Ia (Ahmad Syaakir) berkata : “Sanadnya shahih”.
Diriwayatkan pula oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (4/435), dan ia berkata : Hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan Al-Bukhari dan Muslim, jika Al-Hasan mendengar hadits tersebut dari ‘Abdullah bin ‘Amr”. Disepakati oleh Adz-Dzahabiy.
[17] An-Nihaayah/Al-Fitan wal-Malaahim (1/186), tahqiq : Dr. Thaha Zainiy.