Matahari sesungguhnya selalu hadir dan ada,
Dan setiap orang terhangati olehnya.
Meskipun begitu, karena matahari tidak selamanya terlihat,
Manusia tidak mengengetahui bahwa kehangatan dan kehidupan berasal darinya.

Selasa, 20 Oktober 2015

RANGKUMAN/RESUME MODUL PEMBELAJARN BERWAWASAN KEMASYARAKATAN (PBK) UT

Modul 1
Pemikiran Tokoh Pembelaaran Berwawasan Kemasyarakatan

Kegiatan Belajar 1 : Pandangan Kritik Sosial dalam Pembelajaran (Teori Belajar Humanistik)
Teori Humanstik dipelopori oleh Jurgen Habermas. Menurut teori humanstik, proses belajar harus  dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Menurut Ausbel (Rene: 1996) belajar bermakna meaning learning, belajar merupakan asimilasi bermakna. Sedangkan menurut Kolb (Rene: 1996) membagi tahap-tahap belajar menjadi 4 tahap, yaitu :
1. Tahap pengalaman konkret. Seseorang mampu atau dapat mengalami suatu peristiwa atau suatu kejadian sebagaimana adanya.
2. Tahap pengamatan aktif dan reflektif, seseorang makin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya.
3.Tahap konseptualisasi, seseorang sudah mulai berupaya untuk membuat abtraksi, mengembangkan suatu teori, konsep atau hokum dan prosedur tentang suatu yang menjadi objek pengmatannya.
4. Tahap eksperimentasi aktif. Seseorang sudah mampu mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau aturan-aturan ke dalam situasi nyata.

Habermas membagi tipe belajar ke dalam tiga bagian, yaitu (1) belajar teknis, (2) belajar praktis, dan (3) belajar emansipatoris.
Honey dan Mumford menggolongkan orang yang belajar ke dalam empat kelompok, yaitu : (1) kelompok aktivis, (2) kelompok reflector, (3) kelompok teoris, (4) kelompok pragmatis.
Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan teori humanitis, yaitu :
a. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran
b. Menentukan materi pembelajaran
c. Menngidentifikasi kemampuan awal peserta didik
d. Mengidentifikassi topik-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri dalam belajar.
e.  Merancang fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran
f.   Membimbing siswa belajar secara aktif
g.  Membimbing siswa untuk memahami hakikat atau makna dari pengalaman belajarnya
h.  Membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya
i.   Membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru ke dalam situasi nyata
j.   Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

Kegiatan Belajar 2 : Pandangan Progresif dalam Pembelajaran

Pandangan progresivisme berasal dari pikiran John Dewey (Tilaar: 2000). Peserta didik dipandang sebagai orang yang merupakan bagian dari masyarakat, sehingga proses pendidikan harus memiliki orientasi terhadap masyarakat. Dewey menyebutkan bahwa terdapat tiga tingkatan kegiatan yang biasa dipergunakan di sekolah, yaitu :
1)    Untuk anak pendidikan pra-sekolah diperlukan latihan berkenaan dengan pengembangan kemampuan panca indera dan pengembangan koordinasi fisik.
2)   Menggunakan bahan belajar yang bersumber dari lingkungan yang dapat merangsang minat anak belajar agar mampu membangun, mencoba dan mengambangkan kretivitas.
3)   Anak menemukan ide-ide atau gagassan, mengujinya, dan menggunakan ide-ide atau gagasan tersebut untuk memecahkan persoalan yang sama.

Pikiran-pikiran progresivisme berbeda dalam cara pandang terhadap pendidikan tradisional, dalam hal ; (1) guru memiliki kendali dalam pembelajaran, (2) hanya percaya bahwa buku sebagai satu-satunya sumber informasi, (3) belajar yang pasif, dan cenderung tidak faktual, (4) memisahkan sekolah dengan masyarakat, dan (5) menggunakan hukuman fisik dalam menegakkan disiplin.
Terdapat lima prinsip pendidikan progresif, yaitu (1) berikan kebebasan pada anak untuk berkembang secara alamiah, (2) minat dan pengalaman  langsung merupakan rangsangan paling baik untuk belajar, (3) guru memiliki peran sebagai narasumber dan pembimbing kegiatan belajar, (4) mengembangkan kerja sama antara sekolah dengan keluarga, (5) sekolah profresif harus menjadi laboratorium reformasi dan pengujian pendidikan.

Kegiatan Belajar 3 : Pandangan Sosiokultural Konstruktivis dalam Pendidikan
        
Resolusi konstuktivis memeiliki akar yang kuat di dalam sejarah pendidikan. Konstruktivis lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky, yang keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yangbtelah dipahami sebelumnya diolah melalui suatuproses ketidak seimbangan dalam upaya memahami informasi-informasi baru. strategi pembelajaran
Ide-ide konstruktivisme modern banyak berlandaskan kepada teori Vygotsky yang telah digunakan dalam menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelaaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek, dan penemuan (Mohamad Nur: 1999).
Terdapat empat prinsip kunci yang diturunkan dari teori konstruktivisme modern, yaitu :
1)  Penekanannya pada hakikat sosial dari pembelajaran.
2)  Ide bahwa belajar paling baik apabila konsep itu berada dalam zona perkembangan mereka.
3)  Adanya penekanan terhadap keduanya, yaitu hakikat sosial dari belajar dan zona perkembangan terdekat yang dinamakan dengan pemagangan kognitif.
4)  Pada proses pembelajaran menekankan kemandirian atau belajar menggunakan media.

Menurut teori konstruktivis, pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya.
Von Galserfeld mengemukakan beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses kognitif pengetahuan, yaitu (1)  kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (2) kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan, (3) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari padda yang lainnya.
Paradigma kontruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut menjadi dasar dalam mengonstruksi pengetahuan yang baru.
Pendekatan Vygotsky menganjurkan pngetesan lapisan bawah dan atas zona itu sehingga mengetahui tentang tingkat status dan kemampuan normal siswa saat ini di samping juga berapa banyak siswa mendapatkan manfaat dari jenis-jenis bantuan tertentu.

Kegiatan Belajar 4 : Pandangan Ki Hadjar Dewantoro terhadap Pendidikan

Pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia dalam arti bahwa menjadi manusia yang mandiri, agar tidak tergantung kepada orang lain baik lahir ataupun batin. Kemerdekaan yang dimaksud dari 3 macam, yaitu : berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, dan dapat mengatur dirinya sendiri.
Lahirnya pendidikan Taman Siswa juga diilhami oleh model pendidikan barat yang tidak menyelesaikan persoalan peningkatan kualitas sumber daya manusia waktu itu. Menurutnya Pendidikan barat memiliki ciri : perintah, hukuman dan ketertiban. Ki Hadjar Dewantoro merupakan salah satu perkosaan terhadap kehidupan batin anak-anak. Oleh karena itu, tidak heran apabila hasil pendidikan barat melahirkan anak dengan budi pekerti rusak sebagai akibat dari anak yang hidup di bawah paksaan dan hukuman, yang biasanya tidak setimpal dengan kesalahannya.
Beberapa falsafah Ki Hadjar Dewantoro berkenaan dengan pendidikan, yaitu :
1.  Segala alat, usaha dan juga cara pendidikan harus sesuai denngan kodratnya
2.  Kodratnya itu tersimpan dalam adat istiadat setiap masyarakat dengan berbagai kekhasan, yang kesemuanya itu bertujuan untuk mencapa hidup tertib dan damai
3.  Adat istiaddat sifatnya selalu berubah (dinamis)
4.  Untuk mengetahui karakteristik mesyarakat saat ini diperlukan kajian dalam mendalam tentang kehidupan masyrakat tersebut di masa lampau, sehingga dapat diprediksi kehidupan yang akan datang pada masyarakat tersebut.
5.  Perkembangan budaya masyarakat akan dipengaruhi oleh unsur-unsur lain. Hal ini terjadi karena terjadinya pergaulan bangsa.



Modul 2
Ruang Lingkup Kebudayaan dalam Pendidikan

Kegiatan Belajar 1 : Hakikat Kebudayaan

Kata “kebudayaan” berasal dari bahasa Sansekerta buddayah yang merupakan bentuk jamak dari “buddhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkut paut dengan budii atau akal”. Adapaun istilah culture yang merupakan istilah bahasa asing sama artinya dengan kebudayaan, berasal dari kata latin “colere”, yang artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau bertani. Dari asal kata tersebut (colere) kemudian culture diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Menurut Tylor (1871) kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan mencakup kesemuanya yan didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebgai anggota masyarakat.
Tilaar (2002) merinci definisi yang dikemukakan E.B. Tylor sebagai berikut :
1)      Kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang kompleks.
2)      Kebudayaan merupakan suatu prestasi kreasi manusia yang bukan material, artinya berupa bentuk-bentuk prestasi psikologis seperti : ilmu pengetahuan, kepercayaan, dan seni.
3)      Kebudayaan dapat pula berbentuk fisik seperti hasil seni
4)      Kebudayaan dapat pula berbentuk kelakuan-kelakuan yang terarah seperti hokum, adat istiadat yang berkesinambungan.
5)      Kebudayaan diperoleh dari lingkungan.
6)      Kebudayaan tidak terwujud dalam kehidupan manusia soliter atau terasing tetapi yang hidup dalam suatu masyarakat tertentu.

J.J. Honingmann membuat perbedaan atas tiga gejala kebudayaan, yakni : (1) ideas, (2) activities, (3) artifacts. Namun demikian Koentjaraningrat (1996) menyarankan agar kebudayaan dibeda-bedakan sesuai empat wujudnya, yang terdiri dari : (1) artifacts, (2) sistem tingkah laku dan tindakan yang berpola, (3) sistem gagasan, (4) sistem idiologis.

Kegiatan Belajar 2 : Unsur-unsur Pokok Kebudayaan

Menuurt Melville J. Herskovits (Soekanto: 1990) ada 4 unsur pokok kebudayaan, yaitu :
1.      Alat-alat teknologi
2.      Sistem ekonomi
3.      Keluarga
4.      Kekuasaaan politik

Menurut Malinowski (Soekanto: 1990) menyebut unsur-unsur pokok kebudayaan adalah sebagai berikut :
1.      Sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat di dalam supaya menguasai alam sekelilingnya.
2.      Organisasi ekonomi
3.      Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan
4.      Organisasi kekuatan
Menurut C. Kluckhohn (1953) menyebutkan unsur-unsur pada kebudayaan yang ada di dunia ini secara universal terdiri atas :
1.      Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transportasi, dsb)
2.      Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem  ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dsb)
3.      Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum dan sistem pekawinan)
4.      Bahasa (lisan maupun tertulis)
5.      Kesenian (seni rupa, seni rupa, seni gerak, dsb)
6.      Sistem Pengetahuan
7.      Religi (sistem kepercayaan)
Unsur-unsur normative yang merupakan bagian dan kebudayaan adalah sebagai berikut :
1.      Unsur-unsur yang menyangkut penilaian, misalnya baik dan buruk, dsb
2.      Unsur-unsur yang berhubungan dengan apa yang seharausnya, seperti perilaku.
3.      Unsur-unsur yang menyangkut kepercayaan, seperti mengadakan upacara adat saat kelahiran, dsb.

Kegiatan Belajar 3 : Fungsi Pendidikan dalam Kebudayaan

Di dalam transmisi kebudayaan terdapat tiga unsur utama, yaitu :
1.      Unsur-unsur yang ditransmisikan
2.      Proses transmisi
3.      Cara transmisi
Pada masyarakat modern, sekolah merupakan salah satu lembaga utama yang dipergunakan oleh orang dewasa dalam mewariskan kebudayaan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, guru atau tenaga kependidikan harus memiliki pemahaman yang jelas tentang budaya yang berkembang di masyarakat, baik secara makro maupun secara mikro yang meliputu nilai, kepercayaan, dan norma.
D’Antonio (1983) mendefinikan keluarga sebgai suatu unit yang terdiri dua orang atau lebih yang hidup bersama untuk suatu periode waktu, dan diantara mereka saling berbagi dalam suatu hal atau lebih, yang berkaitan dengan pekerjaan, seks, kesejahteraan, dan makanan anak-anak, kgiatan intelektual, spiritual, dan rekreasi.
Rollin dan Galligen (1978) mendefinikan keluarga sebagai suatu sistem interaksi semi 1.      Pemeliharaan fisik dan kesejahteraan anggota keluarga
2.      Meambah anggota keluarga baru, baik melalui kelahiran amupun adopsi
3.      Sosialisasi anak-anak tehadap orang dewasa, seperti sebgai orang dewasa, pekerja, anggota masyarakat, dll
4.      Pengendali sosial anggota keluarga
5.      Pemelihara moral keluarga dan motivasi untuk memastikan kinerja tugas baik di dalam keluarga maupun dalam kelompok sosial lain.
6.      Produksi dan konsumsi peralatan dan pelayanan yang diperlukan untuk mendorong dan memelihara inti keluarga
tertutup di antara orang-orang yang bervariasi umur dan jenis kelaminnya, dimana interaksi tersebut terorganisasi dalam arti hubungan proses sosial dengan norma dan peranan yang ditentukan, baik oleh individu yang beriteraksi mauupun oleh masyarakat sebgai suatu ciri dari sistem tersebut.

Zimmerman (1983) mengemukakan fungsi utama keluarga adalah sebagai berikut : Di dalam proses pembudayaan terdapat pengertian-pengetian seperti invensi dan penemuan, difusi kebudayaan, akulturasi, asimilasi, inovasi, fokus, krisis, dan prediksi masa depan.
Menurut kajian Bremeld (Tilaar: 2000) proses kebudayaan mempunyai tiga aspek yang saling berkaitan satu dengan lainnya, yaitu :
1.      Kebudayaan mempunyai tata susunan (order) yang kompleks namun merupakan suatu anyaman yang berpola
2.      Nilai-nilai kebudayaan ditransmisikan dengan proses-proses acquiring, dan
3.      Proses pembudayaan mempunyai tujuan



MODUL 3
Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan

Kegiatan Belajar 1 : Arah Baru Pendidikan Menuju Demokratisasi

Dengan terjadinya pergeseran peran pendidikan, maka secara mendasar pendidikan perlu memiliki karakteristik sebgai berikut :
1.      Mampu mangembangkan kreativitas, kebudayaan, dan peradaban
2.      Mendukung diseminasi nilai keunggulan
3.      Mengembangkan nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan, keadilan, dan keagamaan
4.      Mengembangkan secara berkelanjutan kinerja kreatif dan produktif yang koheren dengan nilai-nilai moral
Dengan acuan buku Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah (Jalal dan Supriadi, 2001), diungkapkan tentang arah pendangan dasar pendidikan nasional, visi misi tujuan  pendidikan nasional dan demokratisasi pendidikan.
Acuan pemikiran dalam penataan, dan pengembangan sistem pendidikan nasional harus mampu mengakomodasikan berbagai pandangan sehingga terjadi keterpaduan dalam konteks dengan didasarkan prinsip :
1.      Membangun prinsip kesetaraan
2.      Menciptakan konfigurasi komponen sumber
3.      Menerapkan prinsip pemberdayaaan
4.      Melaksanakan prinsip kemandirian
5.      Menciptakan prinsip toleransi dan consensus
6.      Menyusun dasar perencanaan pendidikan
7.      Menerapkan prinsip rekonstruksionis
8.      Berorientasi pada peserta didik
9.      Berdasar pada prinsip pendidikan multicultural
10.    Menerapkan prinsip globalisasi
Visi Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang mengutamakan kemandirian menuju keunggulan untuk meraih kemajuan dan kemakmuran berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Misi Pendidikan sesuai amanat UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa yang ditempuh melalui pembelajaran dan pembudayaan bangsa dan masyarakat Indonesia agar setiap insan Indonesia berpendidikan, berbudaya, cerdas, berakar kuat pada moral dan budaya, dan berkeadilan sosial. Misi Pendidikan Nasional jangka pendek adalah pemulihan dari krisis, misi jangka menengah adalah pemberdayaan masyarakat dalam bidang pendidikan, misi jangka panjangnya adalah tercapainya masyarakat Indonesia baru yaitu masyarakat madani. Tujuan Pendidikan Nasional mampu menghasilkan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat yang sehat dan cerdas.
Makna demokratis dalam pendidikan yaitu proses pengembalian keputusan pendidikan melibatkan semua tingkatan secara maksimal, dan upaya harus dilakukan dalam rangka demokratisasi pendidikan adalah :
1.      Perluasan dan pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan
2.      Pendidikan untuk semua
3.      Pemberdayaan dan pendayagunaan berbagai institusi kemasyarakatan
4.      Pengakuan hak-hak masyarakat termasuk hak pendidikan
5.      Kerja sama dengan dunia usaha dan industry

Kegiatan Belajar 2 : Konsep Pembelajaran Berwawasan kemasyarakatan

Pembelajaran berwawasaan kemasyarakatan  dilandasi oleh pemikiran dari berbagai teoripembelajaran, yaitu teori humanistik, teori progresivisme, dan teori konstruksivisme, serta pendidikan berbasis masyarakat. Pembelajaran berwawasan kemasyarakatan harus didasarkan pada hal-hal berikut :
1.      Kebermaknaan dan kebermanfaatan bagi peserta didik
2.      Pemanfaatan lingkungan dalam pembelajaran
3.      Materi pembelajaran terintegrasi dengan kehdupan sehari-hari peserta didik
4.      Masalah yang diangkat dalam pembelajaran ada kesesuaian dengan kebutuhan peserta didik
5.      Menekankan pada pembelajaran partisipatif yang berpusat pada peserta didik
6.      Menumbuhkan kerja sama di antara peserta didik
7.      Menumbuhkan kemandirian
Menurut Galbarait (Marzuki: 2004), pendidikan berbasis masyarakat mengandung beberapa makna, yaitu :
1)      Kemampuan peserta didik meningkat
2)      Partisipasi dan demokrasi
3)      Mobilisasi aksi masyarakat
Dari pendapat tersebut terdapat prinsip-prinsip pembelajaran yang dapat disimpulkan, yaitu :
1.      Determinasi Diri (self determination)
2.      Membantu dirinya sendiri (self help)
3.      Mengembangkan kepemimpinan (Leadership Development)
4.      Lokalisasi (localization)
5.      Pelayanan Terpadu (Integrated Delivery of Service)
6.      Menerima Perbedaan (Accept Diversity)
7.      Belajar Terus Menerus (Lifelong Learning)


MODUL 4
Satuan dan Program Pendidikan Masyarakat

Kegiatan Belajar 1 : Satuan dan Program Pendidikan di Masyarakat

Mengacu pada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 10, satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
Satuan Pendidikan yang ada di masyarakat menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 26 ayat 4 adalah lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.
Program pendidikan yang ada di masyarakat menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 26 ayat 3 adalah pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan, pendidikan kesetaraan.

Kegiatan Belajar 2 : Pendekatan Pembelajaran dalam Berbagai Satuan Pendidikan di Masyarakat

Pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran pada berbagai satuan pendidikan adalah pedagogi dan andragogi. Dalam model pedagogi, guru memiliki peran dalam pembelajaran karena didasari oleh beberapa asumsi mengenai peserta didik yaitu :
1.      Kebutuhan untuk mengetahui (The need to know)
2.      Konsep diri peserta didik (The leaners self konsep)
3.      Peran pengalaman (The role of experience)
4.      Kesiapan untuk belajar (Readliness to learn)
5.      Berorientasi belajar  (Orientation to learning)
6.      Motivasi (Motivation)
Proses pembelajaran pedagogi cenderung teacher centered. Hal ini dilandasi dengan ciri : 1) adanya dominasi guru dalam pembelajaran, 2) Bahan belajar terdiiri dari konsep-konsep yang datangnya dari guru, 3) Materi belajar cenderung bersifat dominan, 4) Peserta didik tinggal menerima instruksi yang ditentukan oleh guru.
Knowles (1980) mendefinikan andragogi sebagai seni dan ilmu dalam membantu peserta didik untuk belajar (the science and arts of helping adults learn). Andragogi disebut juga sebagai teknologi pelibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran penerapan model.
Menurut pandangan andragogi, setiap pendidik harus mampu membantu peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan :
1.      Menciptakan suasana kondusif untuk belajar melalui kerja sama dalam merencanakan program pembelajaran.
2.      Menemukan kebutuhan belajar
3.      Merumuskan tujuan dan materi yang cocok untuk memenuhi kebutuhan belajar
4.      Merancang pola belajar dalam sejumlah pengalaman belajar untuk peserta didik
5.      Melaksanakan kegiatan belajar dengan menggunakan metode, teknik, dan sarana belajar yang tepat
6.      Menilai kgiatan belajar serta mendiagnosis kembali kebutuhan belajar untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya.
Asumsi yang dijadikan landasan dalam teori andragogi adalah sebagai berikut :
1)      Orang dewasa mempunyai konsep diri
2)      Orang dewasa mempunyai akumulasi pengalaman
3)      Orang dewasa mempunyai kesiapan untuk belajar
4)      Orang dewasa berharap dapat segera menerapkan perolehan belajarnya
5)      Orang dewasa memiliki kemampuan untuk belajar


Modul 7
Pembelaran Multikultural

Kegiatan Belajar 1 :Konsep Dasar Pembelajaran Multikultural

Dalam proses pembelajaran tidak dapat lepas dari unsur-unsur kebudayaan seperti :
1.      Kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang kompleks
2.      Kebudayaan merupakan suatu prestasi kreasi manusia yang material.
3.      Kebudayaan dapat pula berbentuk fisik
4.      Kebudayaan dapat pula berbentuk kelakuan-kelakuan yang terarah
5.      Kebudayaan merupakan suatu realitas yang objektif yang dapat dilihat
6.      Kebudayaan tidak terwujud dalam suatu kehidupan manusia soliter.
Menurut Ki Hadjar Dewatoro, kebudayaan berarti budah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat yaitu alam dan zaman. Rumusan tersebut mengandung makna :
1.      Kebudayaan selalu bersifat kebangsaan (nasional) dan mewujudkan sifat atau watak kepribadian bangsa.
2.      Tap-tiap kebudayaan menunjukkan keindahan dan tingginya adat kemanusiaan pada hidup masing-masing bangsa yang memilikinya.
3.      Tiap-tiap kebudayaan sebgai buah kemenangan manusia terhadap kekuatan alam dan zaman memudahkan dan melancarkan hidupnya serta memberi alat-alat baru untuk meneruskan kemajuan hidup dan memudahkan serta memajukan dan mempertinggi taraf kehidupan
Thomas Hickema (Tilaar: 2000) mengungkapkan tentang tugas guru dalam menerapkan nilai-nilai sebagai inti kebudayaan adalah :
1.      Pendidik haruslah menjadi seorang model
2.      Harus menciptakan masyrakat bermoral
3.      Mempraktekkan disiplin moral
4.      Mencptakan suasana demokratis
5.      Mewujudkan nilai-nilai melalui kurikulum
6.      Menciptakan budaya kerja sama
7.      Menumbuhkan kesadaran karya
8.      Mengembangkan resolusi konflik

Kegiatan Belajar 2 : Strategi Pengelolaan Pembelajaran Multikultural

Menurut Tilaar (2000), rumusan operasional mengenai hakikat pendidikan mempunyai komponen-komponen sebagai berikut :
1.      Pendidikan merupakan suaru proses berkesinambungan
2.      Proses pendidikan berarti menumbuhkembangkan eksistensi manusia
3.      Eksistensi manusia yang memasyarakat.
4.      Proses pendidikan dalam masyarakat yang membudaya
5.      Proses bermasyarakat dan membudaya
Javier Perez (Tilaar: 2000) mengungkapkan bahwa perdamaian harus dimulai dari diri kita masing-masing. Bahan-bahan belajar yang dapat dijadikan acuan dalam pembelajaran perdamaian adalah :
a.       Bahan-bahan atau materi pembelajaran harus memberi bantuan praktis dalam pembelajaran tentang perdamaian
b.      Bahan-bahan atau materi pembelajaran harus menggunakan berbagai metode yang dapat mengembangkan peran serta peserta didik secara aktif
c.       Bahan-bahan atau materi pembelajarab harus mampu memenuhi kebutuhan
d.      Bahan-bahan atau materi pembelajaran harus merangsang minat peserta didik untuk lebih memahami kelompok atau kebudayaan lain
e.       Bahan-bahan atau materi pembelajaran berisi kasus-kasus yang menunjukkan pertikaian antar manusia yang dapat diselesaikan secara damai
f.       Bahan-bahan atau materi pembelajaran harus mnenrangkan masalah-masalah yang paling penting untuk menciptakan perdamaian.
Strategi untuk mempelajari nilai-nilai inti yang berhubungan dengan hak-hak asasi manusia adalah : 1) belajar tentang hak-hak asasi manusia, 2) belajar bagaimana memperjuangkan hak-hak asasi manusia, 3) belajar melalui pelaksanaan hak-hak asasi manusia.
Strategi pembelajaran untuk demokrasi dapat dilakukan dengan cara : 1) etos demokrasi harus belaku di tempat pembelajaran, 2) pembelajaran untuk demokrasi berlangsung secara terus menerus, 3) penafsiran demokrasi harus sesuai dengan konteks sosial budaya, ekonomis, dan evolusinya.

Kegiatan Belajar 3 : Prosedur Pengelolaan Pembelajaran Multikultural

Prosedur yang ditempuh dalam pengelolaan pembelajaran multicultural adalah melalui tahapan : 1) kegiatan pendahuluan, 2) kegiatan utama, 3) analisis, 4) abstraksi, 5) penerapan, dan 6) kegiatan penutup.
Kegiatan pendahuluan dalam pembelajaran multikultiral adalah menciptakan suasana yang kondusif sehingga setiap peserta didik dapat belajar dalam harmoni kebersamaan.
Kegiatan utama merupakan kegitan instruksional yang menekankan pada penciptaan pembelajaran yang harmoni untuk membentuk kepribadian peserta didik yang penuh toleransi didasarkan pada keanekaragaman budaya.
Kegiatan analisis dalam pembelajaran multikultural adalah memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berbagi pemikiran dan pemahaman pribadi tentang sesuatu yang sudah dipelajarinya.
Abstraksi dalam pembelajaran multikultural merupakan upaya pendidik untuk memperjelas materi inti yang harus dipahami oleh peserta didik.
Penerapan dalam pembelajaran multikultural adalah untuk mengukur perubahan yang terjadi pada peserta didik setelah mengikuti pembelajaran.
Kegiatan penuup adalah kegiatan akhir dari prosedur pembelajaran multikultural yang dapat dilakukan sekaligus dengan kegiatan penilaian.

Modul 8
Muatan Life Skills dalam Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan

Kegiatan Belajar 1 : Konsep Dasar Life Skills
Dunia pendidikan di Indonesia menghadapi beberapa tantangan besar, diantaranya sebagai berikut : 1) Dunia pendidikan dituntut untuk mempertahankan hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai, 2) Dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten, mampu bersaing dalam pasar kerja global, 3) Dunia pendidikan dituntut mengubah paradigama dengan pendidikan yang demokratis, mendorong partisipasi masyarakat dan menghargai keragaman kebutuhan dan konsisi daerah, 4) masih rendahnya pertumbuhan ekonomi dan menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat dan munculnya berbagai masalah sosial yang mendasar, 5) Kualitas sumber daya manusia Indonesia masih rendah, 6) Kualitas manusia dipengaruhi juga oleh kemampuan dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Broling (1989) “life skills” adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting yang dimiliki oleh seseorang sehingga meraka dapat hidup mandiri. Kent Davis (2000:1) kecakapan hidup adalah “manual pribadi” bagi tubuh seseorang.
Kecakapan hidup/life skills versi Broling dipilah menjadi :
1.      Kecakapan personal (personal skills) yang mencakup kecakapan mengenal diri (self awareness), dan kecakapan berpikir rasional (thingking skills)
2.      Kecakapan sosial (social skills)
3.      Kecakapan kademik (academic skills)
4.      Kecakapan vokasional (vocational skills)
Kegiatan Belajar 2 : Jenis-jenis Life Skills

Broling (1989) mengelompokkan life skills menjadi : a) Kecakapan hidup sehari-hari (daily living skills), b) Kecakapan hidup sosial pribadi (personal/social skill), c) Kecakapan hidup bekerja (occupational skill).
WHO (World Health Organization) mengelompokkan life skills menjadi lima jenis, yaitu : 1) Self awareness/personal skill, 2) Social skill, 3) Thingking skill, 4) Academic skill, 5)Vocational skill.
Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda mengemukakan jenis-jenis life skills sebagai berikut : 1) Kecakapan pribadi (personal skills), 2) Kecakapan sosial (social skill), 3) Kecakapan akademik (academic skill), 4) Kecakapan vokasional (vocational skill).
Direktorat Kepemudaan mengungkapkan tiga jenis life skills, yaitu 1) Kecakapan Personal, 2) Kecakapan sosial, 3) Kecakapan vokasional.
Dalam dunia kerja, Satori (2002) mengenalkan jenis-jenis life skills dalam employability skills sebagai berikut : 1) Keterampilan Dasar, 2) Keterampilan berpikir tingkat tinggi, 3) Karakter dan keterampilan afektif. Satori menghubungkan antara life skills dengan employability skillvocational skills, dan occupational skills.
Slameto membagi life skills menjadi 2 bagian, yaitu :
Kecakapan Dasar
Kecakapan Instrumental
a.       Kecakapan belajar terus menerus
b.      Kecakapan membaca, menulis, dan menghitung
c.       Kecakapan berkomunikasi : lisan, tulisan, tergambar dan mendengar
d.      Kecakapan berpikir
e.       Kecakapan qalbu (spiritual), rasa dan emosi
f.       Kecakapan mengelola kesehatan badan
g.      Kecakapan merumuskan keinginan dan upaya-upaya untuk mencapainya
h.      Kecakapan berkeluarga dan sosial
a.       Kecakapan memanfaatkan teknologi dalam kehidupan
b.      Kecakapan mengelola sumber daya
c.       Kecakapan bekerja sama dengan orang lain
d.      Kecakapan memanfaatkan informasi
e.       Kecakapan menggunakan sistem dalam kehidupan
f.       Kecakapan berwirausaha
g.      Kecakapan kejujuran, termasuk olahraga dan seni (citarasa)
h.      Kecakapan memilih, meyiapkan dan mengembangkan karier
i.        Kecakapan menjaga harmoni dengan lingkungan
j.        Kecakapan menyatukan bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila

Kegiatan Belajar 3 : Pendekatan dan Strategi Pengembangan Muatan Life Skills pada Pembelajaran berwawasan kemasyarakatan

Pendekatan Pendidikan berbasis luas (Broad based education) sebagai pendekatan dalam penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi life skills dmaksudkan sebagai upaya agar pendidikan dapat memenuhi pokok-pokok pikiran sebagai berikut :
1.      Pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis
2.      Masyarakat demokratis memerlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis
3.      Pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global
4.      Pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsa Indonesiaa yang bersatu dan demokratis
5.      Dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetitif dalam rangka kerja sama
6.      Pendidikan harus mampu mngembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan masyarakat
7.      Pendidikan harus mampu mengindonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi warga Negara Indonesia
Wardiman (1998:73) menyebutkan pendidikan berbasis luas nerupakan sistem baru yang berwawasan sumber daya manusia, berwawasan keunggulan, menganut prinsip tidak mungkin membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki keunggulan, kalau tidak diawali dengan pembentukan dasar (fondasi) yang kuat.
Strategi pengembangan muatan life skills pada pembelajaran yang berwawasan kemasyarakatan meliputi :
a.     Strategi Renung-Latih-Telaah (RLT)
Strategi RLT yang berarti perenungan, Pelatihan atau Pembiasaan dan Pennelaahan dikemukakan oleh Marwah Ibrahim : pendidikan yang berorientasi life skills perlu dilaksanakan dengan strategi perenungan hakikat dan makna hidup/diri, peltihan/pembiasaan, tentang bagaimana mengelola (manajemen) hidup, dan penelaahan kisah sukses tokoh-tokoh sukses.
b.    Strategi Laerner Cantered yang dikembangkan oleh Direktorat Kepemudaan yang menuntut penyelenggaraan life skills dalam pembelajaran menggunakan prinsip ;
1)      Pengembangan berdasarkan minat dan kebutuhan individu dan/atau kelompok sasaran
2)      Pengembangan kecakapan terkait dengan karakteristik potensi wilayah setempat (SDA dan potensi sosial  budaya)
3)      Pengembangan kecakapan dilakukan secara nyata  sebagai dasar sektor usaha kecil atau industry rumah tangga
4)      Pengembangan kecakapan berdasarkan pada peningkatan kompetensi keterampilan peserta didik untuk berusaha dan bekerja sehingga tidak terlalu teoritik namun lebih bersifat aplikatif operasional
c.       Strategi Kurkulum Berbasis Kompetensi
d.      Strategi Penguatan Pendidikan Ekstrakurikuler

Pola penyelenggaran pembelajaran berorientasi life skills, salah satunya adalah menggunakan 15 langkah, yaitu :
1.      Penyiapan Diri
2.      Penyiapan Lembaga Masyarakat
3.      Mengidentifikasi Potensi Penyelenggara Program
4.      Menyusun Rencana Kegiatan Pendidikan Kecakapan Hidup
5.      Menyusun Kurikulum dan Strategi Pendidikan Kecakapan Hidup
6.      Menyusun/Mengadakan Bahan belajar
7.      Menyusun Instrumen Pemaantauan, Penilaian, dan Pendampingan
8.      Melaksanakan Orientasi Bagi Pengelola dan Narasumber
9.      Melaksanakan sosialisasi Program kepada Stakeholders
10.    Melaksanakan Pembekalan/Pembelajaran
11.    Malaksanakan Fasilitasi Pemandirian Kecakapan Hidup Peserta Didik
12.    Mamantau, Menilai dan Memfasilitasi Pelaksanaan Program
13.    Menilai Program Pendidikan Kecakapan Hidup
14.    Menyusun Laporan Pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup
15.    Menyusun Rencana Tindak Lanjut Program


Modul 9
Model-Model Pembelajaran Sosial

Kegiatan Belajar 1 : Model Pembelajaran Partisipatif

Pembelajaran partisipatif pada intinya dapat diartikan sebagai upaya pendidik untuk mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, yaitu : perancanaan program (program planning), pelaksanaan program (program implementation), dan penilaian program (program evaluation).
Ciri-ciri pembelajaran partisipatif :
a.       Pendidik menempatkan diri pada kebutuhan tidak serba mengetahui terhadap semua bahan belajar
b.      Pendidik memainkan peran untuk membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran
c.       Pendidik melakukan motivasi terhadap peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran
d.      Pendidik menempatkan dirinya sebagai peserta didik
e.       Pendidik bersama peserta didik saling belajar
f.       Pendidik membantu peserta didik untuk menciptakan situassi belajar yang kondusif
g.      Pendidik mengembangkan kegaitan pembelajaran berkelompok
h.      Pendidik mendorong peserta didik untuk meningkatkan semangat berprestasi
i.        Pendidik mendorong peserta didik untuk berupaya memecahkanpermasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya.
Knowles (1977) langkah-langkah yang harus dilakukan pendidik untuk membantu peserta didik dalam menumbuhkan dan mengembangkan situasi kegiatab dapat dilakukan dengan :
1.      Membantu peserta didik menciptakan iklim belajar
2.      Membantu peserta didik dalam menyusun kelpmpok belajar
3.      Membantu peserta didik dalam mendiagnosis belajar
4.      Membantu peserta didik dalam menyusun tujuan belajar
5.      Membantu peserta didik dalam merancang pengalaman belajar
6.      Membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran
7.      Membantu peserta didik dalam penilaian hasil, proses dan pengaruh kegiatan pembelajaran

Kegiatn Belajar 2 : Model Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

Dalam menyiapkan anak untuk bersosialisasi di masyarakat, sejak dini anak harus sudah megenal lingkungan keidupannya. Model pembelajaran kontekstual merupakan upaya pendidik untuk menghubungkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik melakukan hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan meraka.
Dalam penerapan pembelajaran kontekstual dilandasi aliran konstruktivisme yaitu yang menekankan pada pengalaman langsung peserta didik sebagai kunci dalam pembelajaran.
Pembelajaran kontekstual memiliki perbedaan dengan pembelaaran konvensional, tekanan perbedaannya yaitu pembelajaran konstekstual lebih bersifat student centered dengan proses pembelajarannya berlangsung alamiah dalam membentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami. Sedangkan pembelajaran konvensional lebih cenderung teacher centered, yang dalam proses pembelajarannya siswa lebih banyak menerima informasi bersifat abstrak dan teoritis.
Dalam penerapan pembelajaran kontekstual di kelas, tidak terlepas harus memperhatikan komponen-komponen sebagai acuan utamanya, yaitu :
a.       konstruktivisme (construktivisme)
b.      Pecarian (Inqury)
c.       Bertanya (Questioning)
d.      Masyarakat Belajar (Learning Community)
e.       Pemodelan (Modeling)
f.       Refleksi (Reflection)
g.      Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment)

Kegiatan belajar 3 : Model Pembelajaran Mandiri

Menurut Knowles (1975) belajar mandiri  lebih ditekankan pada orang dewasa dengan asumsi semakin dewasa peserta didik maka :
1.      Dapat mengurangi ketergantungan pada orang lain
2.      Dapat menumbuhkan proses alamiah perkembangan jiwa
3.      Dapat menumbuhkan tanggung jawab pada peserta didik
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan belajar mandiri :
1.      Terbuka terhadap setiap kesempatan belajar
2.      Memiliki konsep diri
3.      Berinisiatif
4.      Memiliki kecintaan terhadap belajar
5.      Kreativitas
6.      Memiliki orientasi ke masa depan
7.      Memiliki ketarampilan belajar