Matahari sesungguhnya selalu hadir dan ada,
Dan setiap orang terhangati olehnya.
Meskipun begitu, karena matahari tidak selamanya terlihat,
Manusia tidak mengengetahui bahwa kehangatan dan kehidupan berasal darinya.

Rabu, 28 September 2011

Mengenal STRUKTUR HATI Versi Al-Quran (part 4) Ma

Fitrah adalah potensi Anda, nilai diri Anda yang sesungguhnya. Orang yang keluar dari fitrahnya maka ia sudah keluar dari potensinya sebagai manusia, misalkan ia bisa saja berbuat seperti hewan. Dan hewan bukanlah manusia.

Berbicara potensi, berarti kita berbicara tentang energi. Hukum energi mengatakan bahwa tiada energi yang hilang, dan energi selalu mencari titik keseimbangan. Semakin besar energi yang dihasilkan maka semakin besar energi yang dikeluarkan. Setiap nilai usaha tentunya akan menghasilkan produk.

Usaha adalah energi, dan produk adalah energi. Setiap usaha menghasilkan produk yang seimbang dengan kualitas usahanya. Energi menghasilkan energi yang bersesuaian. Dan, agar Anda bisa memberikan energi yang tinggi maka Anda harus memiliki energi yang tinggi; yakni menyerap dan menghasilkan energi yang tinggi juga.

Mari kita perhatikan rumus energi berikut :

Ep = m.g.h.

Dimana Ep adalah Energi Potensial, m adalah massa atau kapasitas, g adalah nilai percepatan untuk gravitasi, dan h adalah nilai ketinggian. Jika Anda ingin memiliki Potensi Diri yang tinggi maka Anda harus memiliki nilai Ep yang tinggi. Agar Anda memiliki nilai Ep yang tinggi maka Anda harus memiliki nilai m, g, dan h yang juga tinggi.

Jika diterjemahkan dalam bahasa kehidupan manusia, maka Ep adalah Potensi Diri atau Nilai Diri (to me), m adalah kemampuan diri yang seharusnya (to be), g adalah visi kebumian atau visi keduniawian (to have), dan h adalah visi ketinggian atau visi spiritualisme (to God).

Menariknya, nilai m dan g memiliki batas maksimal (limited), tetapi nilai h adalah unlimited, tak terbatas. Contoh, seseorang yang meningkatkan kualitas m (to be), maka ia tetap saja tidak mungkin menjadi ahli di segala bidang. Untuk memiliki to be yang maksimal ia harus fokus di titik tertentu. Ronaldinho, pesepak bola bintang yang berposisi sebagai pemain tengah dan penyerang pun akan kelabakan jika disuruh menjadi kiper. Ya, itulah nilai m atau to be, sangat terbatas.

Sedangkan nilai g atau gravitasi pun terbatas. Dalam ilmu fisika, nilai g memiliki kisaran antara 9,8 s.d 10. Artinya, kalau hari ini kita hidup hanya sekedar mengejar g atau visi keduniawian (to have), maka potensi diri kita pun akan sangat terbatas. Kejarlah dunia, maka Anda akan merasa haus dan lapar selamanya. Untuk lebih mantapnya, silakan perhatikan diagram berikut :


Sedangkan nilai h atau ketinggian bersifat tidak terbatas (unlimited). Mungkin saja ada batasnya, wallahu a’lam, tapi yang jelas kita sendiri tidak mengetahui dimana batasnya sebab “saking” sangat tingginya. Nilai h adalah visi spiritualisme atau visi keakhiratan atau visi ketuhanan (to God).

Nah, jika Anda menginginkan nilai Ep Anda OPTIMAL maka Anda harus meningkatkan nilai-nilai ketaqwaan Anda kepada Allah SWT; nilai-nilai ketuhanan Anda. Dan, disinilah fitrah Anda yang sesungguhnya akan ditemukan. Dengan kata lain, Anda akan semakin jauh dari fitrah, kalau Anda lebih fokus mengejar nilai m (to be) dan nilai g (to have) – sebagaimana yang banyak dilakukan manusia ingkar pada umumnya. Mereka mengejar UANG, karena mereka pikir UANG adalah sumber kebahagiaan.

Memang betul, Uang bisa membuat seseorang bahagia, tapi kebahagiaannya bersifat TERBATAS. Saudaraku, mari mulai hari ini kita lebih fokus mencari kebahagiaan yang UNLIMITED – Spiritual Happiness.

Ya, Carilah KEBAHAGIAAN yang UNLIMITED tapi jangan lupakan KEBAHAGIAAN yang LIMITED. Sebagaimana diperintahkan Allah yang dapat kita lihat pada terjemahan Data Suci Q.S. Al-Qososh (28) ; 77. Berikut :

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Berikutnya.....

Ternyata dalam hidup ini ada tiga lingkaran potensi kehidupan; pertama adalah Lingakaran MAMPU, kedua Lingkaran MAU, dan ketiga Lingkaran BENAR.

Lingkaran "Mampu" adalah "turunan" dari nilai "Gravitasi" (Mau) nya kita terhadap dunia. Kita bisa mendapatkan apa yang kita "Mau-i" dengan cara meningkatkan "KEMAMPUAN" kita.

Lingkaran "Mau" adalah "turunan" dari nilai "Massa" (Kemampuan) kita. Kita bisa meningkatkan KEMAMPUAN kita kalau kita memiliki KEMAUAN.

Lingkaran "Benar" adalah "turunan" dari nilai "Tinggi" (Seharusnya). Kita bisa meningkatkan nilai Seharusnya ketika kita tetap berada di jalur yang BENAR.

Agar lebih menarik kami akan sajikan digaram sederhana berikut :


Setiap INSAN memiliki tiga lingkaran potensi ini. Ia akan menjadi kuat jika Ketiga lingkaran ini berpadu. Yaitu tatkala seseorang melakukan sesuatu yang MAMPU ia lakukan, yang MAU ia lakukan, dan yang dilakukannya sesuai dengan nilai2 KEBENARAN.

Namun ketika ketiga lingkaran ini terpisah, alias berdiri masing-masing, atau hanya dua lingkaran yang berpadu, maka seorang manusia tidak akan mempunyai nilai diri (to me) kecuali NOL, yaitu seperti hewan, bahkan lebih buruk lagi. Baiklah, sebelum kami melanjutkannya, mari kita kembangkan diagram di atas menjadi lebih menarik lagi, perhatikanlah.

INSAN yang FITRAH berada pada irisan pertama (irisan yang memadukan ketiga lingkaran potensi diri), dimana ia melakukan sesuatu yang MAMPU, MAU, dan BENAR. Tapi hari ini tidak sedikit juga manusia yang terjebak pada irisan 2,3, atau 4.

Irisan kedua menyatakan bahwa seseorang melakukan sesuatu yang MAMPU dan BENAR, tapi ia sendiri ENGGAN (tidak MAU) melakukannya. Ini adalah irisan “paksarela”, yakni melakukan sesuatu yang harus dilakukannya, tapi ia terpaksa (kurang ikhlas) ketika melakukannya.

Irisan ketiga menyatakan bahwa seseorang melakukan sesuatu yang MAU dan BENAR, tapi ia sendiri tidak memiliki KEMAMPUAN untuk melakukannya. Ini adalah irisan “minimalis”, yakni ia akan mendapatkan hasil yang minimal ketika melakukannya, sebab ia melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan KEMAMPUANnya.sehingga energinya terKURAS.

Sedangkan irisan keempat adalah irisan yang paling parah, karena ia melakukan sesuatu tidak berdasarkan nilai-nilai KEBENARAN. Memang dia MAMPU dan dia MAU, tapi dia tidak memperhatikan norma-norma yang berlaku. Kita bisa menyebutnya sebagai irisan “maksiat” atau "Buas".

Dimanakah posisi kita hari ini berada ?
Sudahkah kita menjadi manusia 3 in 1?